Halo sahabat selamat datang di website tradisiindonesia.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Trio Bumiputera Penggerak Kemerdekaan Indonesia, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Kemerdekaan Indonesia tak lahir dari ruang hampa. Gagasan soal itu telah disemai oleh para aktivis yang dekat dengan kaum akar rumput, Semaoen, Tjokro, dan Soerjopranoto.

Zaman pergerakan sebagai masa transisi, ditandai dengan kemunculan ide—yang meski belum nasionalis—tapi cukup menjadi pemantik awal untuk mencapai cita-cita bersama, Indonesia merdeka.

Adalah seorang Indonesianis asal Jepang Takashi Shiraishi, yang merangkum masa pergerakan ini dalam bukunya bertajuk Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Ia banyak mengambil latar di Solo, Semarang, dan sekitarnya, karena memang banyak ide soal Indonesia merdeka yang menetas di sana.

Dalam salah satu bab yang penting buku tersebut, ia memotret kemunculan tiga tokoh kunci di era ini. Mereka adalah Semaoen, Tjokro baru yang menjadi lebih radikal, serta Si Raja Mogok Soerjopranoto.

Baca Juga: Jejak Nasionalisme dalam Pers Indonesia

1. Munculnya Semaoen

Semaoen muncul di tengah-tengah Serikat Islam (SI) sebagai sosok aktivis muda Semarang dari Indische Sociaal Democratische Vereniging/ Perkumpulan Sosial-Demokratis Indonesia (ISDV), organisasi bentukan pembimbingnya, Sneevliet. ISDV, yang berhaluan marxis-revolusioner, berdiri di Surabaya pada 1914.

Sebagai seorang bumiputra yang dekat dengan serikat buruh, ia memulai kiprahnya mempopulerkan paham Marxisme, lalu mengorganisir serikat, dan memimpin pemogokan bersama Sneevliet. Takashi menyebut, Semaoen bersuara dengan lantang dan terus terang, dalam tiap aksinya. Semaoen sendiri menempatkan pergerakan melawan ketentreman, yang menandai rust-nya orang Belanda dan tentremnya orang Jawa.

Kiprah radikal Semaoen itu muncul terutama setelah ia menduduki jabatan sebagai Ketua SI cabang Semarang. Pergantian kepengurusan ini, sebagaimana dicatat Soe Hok Gie, menandai perubahan gerakan SI Semarang, dari gerakan kaum menengah menjadi gerakan buruh-tani.

Gie mencatat, ada lima isu menjadi perhatian intensif SI Semarang, yakni membela kaum tani dari kerakusan kapitalis perkebunan, menolak pembentukan milisi Bumiputera (Indie Weerbaar), melawan wabah pes, pembelaan terhadap Sneevliet yang didera delik pers (persdelict), dan nasib kaum buruh.

Lantaran berfokus pada isu-isu krusial tersebut, SI makin moncer membesarkan anggotanya, dari yang mulanya hanya 1.700 orang pada 1916 menjadi 20.000-an setahun berselang. Nama Semaoen pun makin dikukuhkan sebagai agitator dan propagandis mumpuni.

Selain itu, Semaoen juga merombak organ propaganda SI Semarang, Sinar Hindia—yang pada akhirnya diubah jadi Sinar Djawa—menjadi pisau untuk memblejeti kejahatan sistem kolonialisme. Ia juga menentang keras Volksraad (Parlemen bentukan Belanda), yang tak memadai menyambung lidah rakyat Hindia Belanda. Representasi pribumi di Volksraad juga relatif minim, dari 39 anggota, hanya 19 yang berasal dari pribumi.

Saat tensi radikalisme buruh makin panas tahun 1918-1920, Semaoen menginisiasi pemogokan pabrik perabotan setempat yang punya 300-an pekerja. Berikutnya, ia menyatukan gerakan buruh bernama Persatuan Kaum Buruh Semarang.

Di level nasional, pada Desember 1919, ia juga mendesak penyatuan buruh dalam Revolusionere Socialistisct Vakcentrale. Sayang, proposal Semaoen ditentang tokoh konservatis SI, Soerjopranoto dan Haji Agus Salim. Untungnya, Persatuan Pergerakan Kaum Buruh (PPKB) tetap didirikan, meski nir-nama Semaoen. Itu memuat 22 serikat buruh: PFB (32.000 anggota), VSTP (11.000 anggota), PPPB (5500), dan lain-lain. Semaoen menjadi pimpinan dari federasi ini.

2. Tjokro jadi radikal

Trio Bumiputera Penggerak Kemerdekaan Indonesia

Lukisan Tjokro (Foto: Tirto/ Istimewa)

Baca Juga: Militer dan Tradisi Kekerasan di Indonesia

Semaoen makin keras menggoyang supremasi Tjokroaminoto di SI. Karena terdesak dengan pengaruh merah Semaoen yang tampak sangat militan dan lantang menyerukan ide anti-kapitalis dan mengolok parlemen bentukan Belanda, ia meniru hal yang sama meski agak berbeda gayanya.

Takashi bercerita, bagaimana Tjokro mengubah gaya bicaranya menjadi lebih militan di CSI, tapi kontennya tetap sama. Ia tetap berlindung di bawah ketiak pemerintah kolonial Belanda, namun menolak kapitalisme masuk.

Saat Semaoen mulai banyak memimpin aksi mogok bareng Marco, ia justru mendorong gerakan Jawa Dwipa dari Surabaya. Selain itu, ia juga menghimpun dukungan dari para saudagar Arab  dan Muslim bumiputra lewat TKNM, dan terlibat dalam gejolak buruh, adu pengaruh dengan SI Semarang.

Sampai akhirnya, ia juga memasukkan gerakan serikat buruh sebagai bidang utama yang ditangani CSI.

3. Zaman mogok dan munculnya Si "Raja Mogok"

Soerjopranoto adalah seorang priyayi yang telah gemar memberontak sejak kecil. Pribadinya yang bersumbu pendek, pemarah, terbawa hingga ia lulus HIS pada 1888 dan ikut kursus ambtenaar. Di usia 14, ia sering menghajar sinyo-sinyo Belanda yang meremehkan orang pribumi. Ia juga berada di garda depan saat ada aturan aparat yang dinilainya berat sebelah.

Ia pernah "dibuang" ke Tuban karena gemar bikin onar, namun kembali lagi ke Pakualaman dan menjabat sebagai sekretaris serta salah seorang wedana. Saat itulah, ia mulai dekat dengan kalangan priyayi hingga warga termiskin. "Yang kecil menjadi makanan yang sedang, yang sedang menjadi makanan yang besar," kata Soerjopranoto suatu hari.

Didorong kedekatan itulah, ia bersama teman-temannya mendirikan Mardi Kaskaya, organisasi pembebasan rakyat Pakualaman dari jerat rentenir. Organisasi ini juga memberi modal bagi warga dan abdi dalem untuk bekerja sambilan. Kemunculan organisasi ini tak ayal memicu kekerasan rentenir di mana-mana.

Ia lantas dibuang untuk bersekolah di Middlebare Landbouwschool di Buitenzorg (Sekolah Tani, cikal bakal dari Institut Pertanian Bogor). Selama sekolah, ia sempat berkenalan dengan Ernest Eugene Francois Douwes Dekker, pendiri Indische Partij. Sempat masuk STOVIA, ia kemudian dipindah pekerjaan ke Wonosobo, dan saat itulah mulai bergabung dengan Boedi Oetomo.

Di sisi lain, perkembangan SI membuat H. Samanhoedi dan R.M. Tirtoadhisoerjo menarik Soerjopranoto untuk bergabung. Lantaran derasnya fragmen di SI sejak ia bersalin rupa menjadi partai, yang disusupi komunisme lewat Mas Marco, Alimin, Darsono, dan Semaoen; sosialisme Islam ala H. Misbach; dan islam reformis dari Fachroedin (murid Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyyah), maka posisi Soerjopranoto yang keras dijuluki pers Belanda dengan label "Si Raja Mogok". Pada 9 Agustus 1920, ia mengumumkan pemogokan di Pabrik Gula Padokan Yogyakarta. Aksi yang kemudian meluas di Jawa.

Ia sempat bersaing dengan Semaoen—tokoh buruh Semarang—dalam dunia perburuhan, karena relatif dekat dengan Tjokro yang saat itu bermusuhan dengan Semaoen. Soerjopranoto sendiri dikenal sebagai tokoh buruh Yogyakarta.

Saat SI makin merah karena pengaruh Semaoen, ia berperan membersihkan unsur komunisme, dengan menerapkan disiplin partai. Tak boleh ada keanggotaan ganda.

Jadi, tiga contoh figur di atas menurut saya cukup representatif digunakan memotret gerakan buruh dan kalangan akar rumput. Bahwa kemudian buruh jika dikoordinir bisa menjadi kekuatan politik yang penting untuk menjungkalkan status quo, ini perlu dijadikan sebagai pembelajaran penting.

Aktor politik tak melulu diisi oleh elit birokrat atau pemerintah saja, tapi juga bisa berasal dari golongan buruh, kaum terpelajar, dan kelompok lainnya. Buktinya, kekuatan massa bisa membuat rezim yang mapan seperti Orde Baru terjungkal.

Gerakan massa juga bisa memicu kelahiran "révolution de jasmin" – revolusi melati di Tunisia yang bermuara pada kejatuhan Presiden Tunisia Zine el-Abidine Ben Ali ke Arab Saudi, 14 Januari 2011 silam. Gerakan yang diinisiasi ribuan akar rumput di Tunisia, yang mulanya memprotes kinerja aparat polisi, bergeser ke isu yang lebih masif, yakni otoritarianisme Ben Ali. Aksi ini sendiri ditiru oleh beberapa negara Arab yang lebih dikenal dengan peristiwa Arab Spring.

 

Penulis dan editor: Purnama Ayu Rizky

Keterangan foto utama: Ilustrasi rapat Sarekat Islam. (Foto: Tropen Museum/ Tirto)

Itulah tadi informasi mengenai Trio Bumiputera Penggerak Kemerdekaan Indonesia dan sekianlah artikel dari kami tradisiindonesia.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.